Rabu, 15 Juli 2009

Cerita Bersambung "Airin"

oLEH Ivo Yasmiati

TANGIS AIRIN DALAM SENJA

Dear Aiko, diary mungilku.....
Hingar bingar kendaraan yang memenuhi kota Bertuah ini, tak mampu menyusutkan airmataku atas kehilanganmu. Meski ku tahu, disana kau tak pernah tahu perihnya luka yang begitu dalam membekas disanubari, dalam gelak tawa yang terlantun, didalam diam ku seka air mata. Hampir empat bulan perpisahan itu, dan semua menghilang. Sebuah janjipun tak kau tepati. Kau pergi, dan melupakan ku dalam sekejab. Aku tak mampu berkata atau menyesali semua langkah yang ku ambil. Ku tinggalkan kediaman yang ku cintai, karena ku tak mampu bergumul dalam luka yang kau tinggalkan.

Berulang kali hatiku bertanya. Mampukah ku terina sebuah keikhlasan? Meskipun nomor mu tak bisa lagi ku hubungi, meskipun betapa inginnya ku membencimu. Potret itu telah ku hancurkan, seperti hancurnya perasaan yang tercabik – cabik. Tapi ia tak mampu hadirkan ku sebuah kebencian.

Beberapa hari yang lalu, kau hadir dalam mimpiku. Dan kesedihan itu semakin ku rasakan. Setelah kau pergi, menjauh dari kehidupanku. Kau memang telah menganggap ku mati. Mengapa yang ku cintai, tapi justru melukaiku?

Aku tahu, menginginkan mu hadir kembali di sini adalah sebuah mimpi semu. Semua itu sudah tak mungkin. Dua tahun lagi pun, aku tak sanggup untuk berharap kau masih mengingatiku. Tangisan yang keluar itu tak bersuara, dan andai kau tahu tangisan itu lebih sakit dari pada raungan suara melengking. Aku tak pernah menuntut sebuah jawaban dari hatimu. Tapi aku butuh kejujuran. Kejujuran bahwa kau benci dan menyesali bertemu denganku.

Malam ini, saat orang terlelap dalam selimut malam. Waktu di dinding menunjukkan pkl. 3.00 wib. Dan kau tahu? Hampir seminggu air mata ini menetes. Sebuah kata rindu yang tak pernah mampu ku ucap. Aku membutuhkanmu, untuk memberikan ku dukungan. Aku membutuhkan mu, untuk membangkitkan semangatku yang semakin tenggelam. Tapi, mengapa kau tak pernah perduli?

Aku berjalan dari satu pintu ke pintu. Dari satu gang ke gang. Dari satu jembatan ke jembatan. Dari satu bis ke bis. Dan disana selalu ku dapati bayanganmu. Bayangan itu membuat hatiku tersiksa. Ku tahu, tawa itu takkan pernah hadir. Ku tahu suara mu takkan pernah lagi ku dengar. Ku tahu takkan pernah ada harapan diatas harapan yang semakin musnah. Setelah air mataku mengering karena kepergianmu, aku seperti manusia yang tak lagi punya hati. Berjalanpun ku terasa beku. Dan kebekuan itu semakin membuatku tersiksa.

Aku tak berharap kau mengerti atau peduli. Tidak sedikitpun……………….
Ku tahu permata yang kau puja jauh lebih baik dariku.
Bila perpisahan ini akhir dari sebuah kisah yang telah banyak menumpahkan air mata, ijinkan aku pamit dari kehidupanmu. Untuk selamanya.
Selamanya kan ku kenang dirimu hanya dalam ingatan………………
Meski sosok itu tak nyata….
Aku memang tidak setegar karang, atau kokoh seperti bambu.
Aku lemah karena keterbatasanku….
Akh, semua telah usai……
Ku tarik semua ucapan yang pernah terucap…
Rapuhkah aku?
Tololkah aku?
Ataukah aku yang menyiksa diriku?


Akh, aku tahu. Tangisanku tak mampu membuat kau mengerti.
Aku hanya seorang gadis yang tolol dan bodoh, yang selalu bergulat dengan kematian.
Aku selalu berjuang dengan penyakit yang menderaku.
Bilapun aku mati, kau belum tentu menangisi mayatku.
Kau belum tentu hadir di pemakamanku.
Aku hanya ingin memberikan yang terbaik di sisa akhir umurku.

Aku terkatung dalam perang batin yang memenjaraku.
Aku terkatung dalam nestapa yang akan membuat hidupku pendek.
Aku takut akan sebuah kematian/
Tapi, aku lebih takut pada bayang mu yang selalu hadir mengintaiku.
Kau tahu, ku terlihat riang agar orang tidak tahu dengan takut yang ku rasa.
Aku tertawa untuk membuat aku menjadi orang yang paling bahagia
Kau tahu kenapa?
Karena semua itu takkan abadi bagiku.

Ku tak berharap yang terbaik darinya
Ku tak berharap ia kotori wajahnya oleh rembesan air mata karena mengingatiku
Ku tak berharap dalam sejumput masapun
Ku tak berharap pada apa yang digariskannya
Yang ku harap hanya satu, tolong hapuskan semua kenangan dan bayangan dirinya
Biarlah ku kubur cinta dalam nisan putih
Ku ukir sebuah nama cinta diatasnya
Cinta itu telah mati, dan dikenangpun tiada berguna

Bila muharam tiba, ku akan selalu ingat padamu
Hari yang telah menghadirkanmu dalam dunia ini
Ketika sebuah keyakinan cinta telah menipis, setipis ari
Tak ku harap suara atau senyuman itu
Semua telah pudar dan semakin memudar
Tatapan ku telah kosong
Rambut yang dulu terurai bahuku, telah ku babat
Semua untuk ku melupakan sebuah kasih yang tak pernah terungkap
Hatur maaf ku, pada tuan yang melabuhkan sauh walau hanya sekejab
Thanks for all…….. the game is over
I should remove everything about you, eventhough is hard for me

Sekapur sirih

Putaran waktu yang berjalan tanpa henti akan membawa diri pada sebuah dekade yang dinamakan perubahan. Pendewasaan itu ataukah hanya nyanyian sumbang yang tertuju pada satu impian semu.